Example 728x250
Berita

Ilmuwan China Ciptakan Virus Corona Paling Berbahaya, Tingkat Kematiannya 100 Persen : Pikirpediatechno

5
×

Ilmuwan China Ciptakan Virus Corona Paling Berbahaya, Tingkat Kematiannya 100 Persen : Pikirpediatechno

Share this article



BEIJING – Peneliti China telah memicu kontroversi di komunitas ilmiah setelah menerbitkan penelitian tentang virus mutan terkait virus corona yang dilaporkan memiliki tingkat kematian 100 persen pada tikus humanisasi, atau tikus yang dimanusiakan, yang terinfeksi.

Tikus humanisasi adalah istilah sains yang merujuk pada tikus yang telah dicangkok dengan sesuatu dari manusia, bisa berupa untaian pendek DNA, jaringan manusia, hingga tumor dari manusia.

Asal muasal virus Covid-19 masih belum diketahui, namun teori konspirasi seputar eksperimen laboratorium China yang bocor kembali mendapat perhatian karena penelitian kontroversial yang baru-baru ini diterbitkan oleh para ilmuwan di Beijing.

Para ilmuwan rupanya bereksperimen dengan strain GX_P2V yang bermutasi, strain ini adalah “sepupu” virus corona yang ditemukan pada trenggiling Malaysia pada 2017. Mereka kemudian menggunakan strain mutan itu untuk menginfeksi tikus hasil rekayasa genetika, yang dirancang untuk mencerminkan susunan genetik serupa dengan manusia.

Studi kontroversial ini adalah yang pertama yang melaporkan tingkat kematian 100% pada tikus yang terinfeksi GX_P2V, jauh melampaui temuan penelitian sebelumnya, menurut laporan Oddity Central.

Penulis penelitian mencatat bahwa semua tikus yang terinfeksi GX_P2V mati dalam waktu delapan hari, sebuah angka kematian yang sangat cepat. Ketika virus mulai melemahkan inangnya, tikus-tikus tersebut mulai mengalami penurunan berat badan, bergerak lebih lambat, dan menunjukkan postur membungkuk. GX_P2V menginfeksi paru-paru, tulang, mata, trakea, dan otak tikus dan dilaporkan menyebabkan mata mereka menjadi putih seluruhnya sehari sebelum mati.



Follow Berita Pikirpediadi Google News


Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari Pikirpediahanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya

“Hal ini menggarisbawahi risiko penyebaran GX_P2V ke manusia dan memberikan model unik untuk memahami mekanisme patogenik virus terkait SARS-CoV-2,” demikian dicatat para penulis.

Temuan mengerikan ini membuat marah para ilmuwan dan ahli virologi Barat, yang banyak di antaranya menjulukinya sebagai hal yang ‘sangat buruk dan ‘tidak berguna’ karena tidak memberikan gambaran nyata tentang bagaimana virus GX_P2V dapat mempengaruhi manusia. 

“Saya tidak melihat ada hal menarik yang dapat dipelajari dari menginfeksi secara paksa jenis tikus aneh yang dimanusiakan dengan virus acak. Sebaliknya, saya bisa melihat bagaimana hal-hal seperti itu bisa menjadi salah,” tulis Francois Balloux, pakar epidemiologi di Institut Genetika University College London, di X.

“Pracetak tersebut tidak merinci tingkat keamanan hayati dan tindakan pencegahan keamanan hayati yang digunakan dalam penelitian ini,” lanjut Balloux. “Tidak adanya informasi ini meningkatkan kemungkinan bahwa sebagian atau seluruh penelitian ini, seperti penelitian di Wuhan pada 2016-2019 yang kemungkinan besar menyebabkan pandemi Covid-19, dilakukan secara sembarangan tanpa pengendalian keamanan hayati minimal dan praktik yang penting untuk penelitian dengan potensi patogen pandemi.”

Richard H. Ebright, Profesor Kimia dan Biologi Kimia di Universitas Ruger, sependapat dengan Balloux, sementara Gennadi Glinsky, pensiunan profesor kedokteran di Stanford, menulis: “Kegilaan ini harus dihentikan sebelum terlambat.”


Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *